ILHAM Politikata

Mak Bareh

Posted in Cerita Ringan on 17 Juli 2010 by ilhamfadli

Oleh : Muhammad Ilham

Berkisahlah saya sedikit. Ada seorang nenek, sebutlah namanya Mak Bareh. Mak, karena ia sudah agak berumur, sementara - bareh - karena ia biasa menggunakan bedak bareh (beras) disetiap ia pergi berdagang ke Pasar Raya. Berdagang sayur-sayuran segar, spesialis mentimun. Sudah sekian tahun, Mak Bareh menjadi anggota tetap Pasar Raya Padang. Subuh berangkat, sore jelang senja ia pulang. “Alhamdulillah, saya bisa menyekolahkan anak saya 3 orang tamat SMA. Yang besar sudah punya anak dua dengan dua suami, kebetulan ia bercerai dengan suami pertamanya yang selingkuh. Anak saya yang kedua, bekerja sebagai sopir angkot. Terakhir, bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan rokok, ” kata Mak Bareh pada saya di suatu senja kala mau sholat maghrib di musholla komplek perumahan kami. Mak Bareh wanita gesit. Dengan durasi kerja yang super aktif, ia tak pernah sakit, setidaknya demikian yang ia ceritakan pada saya. Ia begitu bangga dengan “habitat” tempat ia bekerja. Sebuah habitat yang menjadi pertempuran antara peluh keringat dan harapannya. Karena itu pulalah, Mak Bareh marah-bergejolak, ketika seorang pimpinan kota tempat Pasar Raya berada merestrukturisasi pasar historis ini, manandehkan dalam bahasa Mak Bareh. Habis kosakata persumpahan Mak Bareh untuk menunjukkan kebenciannya pada pimpinan kota yang kebetulan dalam Pilkada Gubernur kemaren, maju menguji “peruntungan” menjadi salah seorang calon Gubernur Sumatera Barat.

Pada awal pencalonan sang pimpinan kota ini jadi Calon Gubernur, muka Mak Bareh merah padam. “Setelah kau hancurkan Pasar Raya-ku, kau minta pula suara-ku … tak yu yu”, kata Mak Bareh dengan bahasa kocak. “Kalau begitu, lalu siapa yang akan mak pilih nanti ?”, kata saya. “Tak seorangpun jua, karena tak satupun jua diantara calon-calon itu yang peduli dengan Pasar Raya-ku, sebutlah siapa saja diantara 5 pasang calon tersebut. Tak akan kuberi suaraku pada mereka, lebih baik saya menggalas“, katanya lagi penuh yakin. Dan saya pun tersenyum. Sebuah pilihan politik yang sangat rasional, gumam saya dalam hati kala itu.

Tanggal 3o Juni 2010, jam 10.00 WIB pagi lebih kurang, saya melihat Mak Bareh datang ke TPS. Ketika mengambil surat suara dari saya, ia diam dan tak berani bertatapan muka. Padahal, saya tersenyum senang melihat kedatangannya. Walau sebelumnya saya berasumsi, bila ada orang Golput di komplek perumahan kami, salah satu kontributornya adalah Mak Bareh. Tapi, pagi itu ia datang dan mencoblos salah satu pasangan gambar yang pada awalnya ia pandang sebagai “mereka yang penipu”. Siap sholat maghrib dimana Mak Bareh begitu rajin jadi makmum saya di musholla, saya panggil ia untuk sekedar bercerita, sebagaimana selama ini sering saya lakukan. Terkadang, keluguannya sangat inspiratif. “Siapa yang Mak Bareh tadi pagi?”, kata saya sambil tersenyum tanpa menyudutkannya. Saya yakin ia mencoblos salah satu pasangan Cagub yang bukan pimpinan kota yang selalu disumpahinya selama ini. Dengan sedikit sungkan, ia menjawab, “nomor sekian pak!”, sambil menyebutkan nomor urut si pemimpin kota yang dibencinya itu. Saya tercengang sambil tertawa. “Tapi mak Bareh selama ini sangat membenci Bapak itu, lalu kenapa mak pilih”, kata saya penasaran. “Memang iya, saya benci sekali dengannya, tapi dulu. Beberapa minggu lalu, ketika masa-masa kampanye, saya dan kawan-kawan diundangnya ikut sebuah acara keIslaman. Nah, sehabis acara itu, ia memberi saya dan kawan-kawan bingkisan. Rupanya Bapak itu ramah, gagah dan sangat Islami, buktinya ia menyalami dan memeluk saya”, kata Mak Bareh dengan sumringah.

Ada satu teori dalam psikologi politik, namanya Sindrom Sandera (hostage syndrom). Mungkin diantara kita pernah menonton film Hollywood yang disiarkan salah satu TV swasta secara berulang-ulang. Bercerita tentang penculikan seorang gadis, anak konglomerat. Penculik, yang kebetulan anak muda ini, menuntut uang tebusan. Setelah perjanjian yang alot dengan melibatkan polisi, pihak keluarga memutuskan untuk membebaskan gadis tersebut. Tapi ajaibnya, si gadis tidak mau dibebaskan. Ia justru membela para penculiknya dan mencintainya. Kebetulan, dalam waktu yang menegangkan itu, terjadi perubahan pandangan si gadis. Awalnya ia begitu benci dan takut dengan penculik yang dianggapnya merampok kebahagiaanya dan menyengsarakan anggota keluarganya. Dalam masa-masa menegangkan itu, rupanya penculik itu berusaha untuk bersikap baik, melepaskan borgol ditangan sang gadis dan menemani gadis itu pipis di malam hari. Ketakutan yang panjang dikalahkan oleh kelonggaran yang sedikit. Bagi sang gadis itu, hal-hal simpel tersebut membuat ia merasa bahwa penculik itu tak sekejam yang ia bayangkan. Dan cinta-pun bersemi.

Mak Bareh dan beberapa kalangan masyarakat yang pada awalnya begitu benci dan apatis dengan proses eleksi dalam Pilkada kemaren, setidaknya mengindap hostage syndrom. Begitu banyak yang memegang anggapan, “siapapun yang akan jadi pimpinan, nasib kita akan seperti ini jua”. Tapi, mereka tersandera dengan suatu masa jelang Pilkada berlangsung, dimana para Calon Gubernur tersebut menunjukkan sifat “malaikat” mereka. Menyapa dengan hati, menunjukkan empati dan memberi bantuan dengan senyuman. Dan setelah itu, banyak diantara mereka yang kembali menunjukkan kekecewaan luar biasa. Setidaknya Mak Bareh, malam tadi bercerita kepada saya, “Pak, saya menyesal memilih kemaren. Apalagi, tak ada satu orang pun calon yang dapat memberikan jalan keluar terhadap permasalahan tempat saya dan kawan-kawan berdagang. Tambah lagi, sang pimpinan kota yang kemaren ramah, nyatanya tak mau lagi mengunjungi tempat kami lagi setelah ia kalah. Apalagi calon-calon yang lain, tidak pernah sekalipun mengunjungi kami, baik ketika mereka kalah maupun menang untuk sekedar mengucapkan terima kasih. Apalagi ada teman-teman saya yang memiolih calon yang menang itu, tapi tak mau datang ketempat kami berdagang yang kumuh lagi becek. Lebih baik saya dahulu tak memilih, tak ada beban dalam pikiran saya. Ah, biarlah pak. Pilkada nanti saya Golput. Saya tak mau terlena dengan kebaikan sesaat, ya … kebaikan sesaat para calon-calon nanti”, kata Mak Bareh dengan nelangsa.

Terkadang Nasionalisme Anak-Anak Jauh Lebih Tinggi Dibandingkan Kita

Posted in Cerita Ringan on 1 Juni 2010 by ilhamfadli

Oleh : Imla W. Ilham

Minggu, 16 Agustus 2009. Ketika pagi menjelang, sulungku Ifa baru siap mandi dan berpakaian. Ia sedang libur sekolah. Pagi itu, ia memulai kegiatan rutinnya bila sedang libur….. bersepeda (tepatnya belajar sepeda) di seputaran komplek bareng teman-temannya. Sedangkan saya mulai “mengolah pakaian kotor” di Mesin Cuci, sementara suami saya membersihkan pekarangan samping rumah (kebun tanaman obat). Kegiatan rutin liburan mulai bergeliat di rumah dan komplek perumahan kami. Beberapa saat kemudian, Ifa datang sambil sambil sedikit marah dan bertanya kepada saya : “Ibunda, kok rumah kita tidak dipasangin bendera merah putih?”. Mati Aku ! ………….. tak bisa saya jawab. Memang, suami saya lupa memasang bendera merah putih jelang 17 Agustusan, biasanya beliau tidak pernah lupa memasang bendera tersebut, apalagi ia ketua di komplek perumahan kami. Kebetulan, tadi malam saya bertanya pada suami tentang keberadaan bendera merah putih kami. Suami saya mengatakan bahwa bendera tersebut entah dimana diletakkannya. Memang ada usaha malam itu untuk mencari, tapi tak ketemu. Akhirnya, ia mengambil kesimpulan : “ya udaah, lihat besoklah, kalau ada waktu ….. ya kalau ada waktu, saya akan ke Pasar Raya, beli bendera merah putih baru lagi, memangnya nasionalisme ditentukan oleh bendera merah putih, buktinya, anggota DPR-RI waktu sidang Paripurna tanggal 15 Agustus 2009 yang lalu, lupa menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya jelang sidang dibuka”, katanya. Ia pandai berdebat dan berkelit, walaupun saya rasa itu hanyalah justifikasi karena ia malas pergi ke Pasar Raya membeli bendera. Kala itu saya diam dan ……………… ya udahlah kalau begitu.

Kembali ke Ifa. Saya diam sambil terus “mengocok pakaian kotor” di mesin cuci produk Jepang (yaa… produk Jepang karena produks Indonesia belum saya temui, setidaknya belum ada refrensi teman-teman ……….. padahal saya cinta produk dalam negeri …..wakakkakkkak wakkkaakkkak). “Ibunda, jawab Ifa, mengapa kita tak pasang bendera merah putih?”, tanya sulung saya yang baru duduk di Kelas 1 SD ini. Akhirnya saya defensif dan mulai menjawab, “Coba tanya sama ayah”. Ia pun berlalu menuju ayahnya yang sedang membersihkan kebun samping rumah, dan saya ikuti. Sebagaimana yang ditanyakan Ifa pada saya, pertanyaan tersebut diulanginya kembali pada ayahnya. Bagaimana reaksi suami saya ? …………. diam dan tersenyum. Ia tak bisa memberikan sebuah justifikasi sebagaimana yang diberikannya pada saya. “Malu Ifa, rumah teman-teman Ifa pakai bendera semua. Kata ibu guru Ifa di sekolah, kita harus mengibarkan bendera merah putih di rumah kita, tandanya kita sayang pada Indonesia”, katanya sambil “menghakimi” ayahnya yang tersenyum sambil garuk-garuk kepala. “Bendera Merah Putih kita hilang”, kata ayahnya. “Kenapa tak dibeli kemaren?”, tangkis Ifa. “Ntar, ayah beli”. “Sekarang aja, supaya bendera bisa dipasang cepat …….. malu Ifa, pokoknya ayah beli cepat”, ujar Ifa kembali sambil mau menangis. Ayahnya ……………. 15-0, kalah telak. “Ya Nak, ayah mandi dulu, baru ayah pergi beli bendera”. “Ndak usah mandi, lama nanti, sekarang aja”, kata Ifa. Suami saya memandangi saya sambil ingin meminta “perlindungan” agar menyakinkan Ifa, setidaknya untuk mandi saja dahulu. Saya tersenyum ………. dan mengatakan, “Ifa betul, tak perlu mandi”, sambil ketawa saya masuk lagi ke rumah.

Ya….. suami saya yang biasanya pintar merangkai kata-kata untuk meyakinkan orang dan suka berdebat, dan biasanya bisa meyakinkan anak-anaknya bahkan anak-anak kami terkesan “tak bisa berlantas angan” padanya. Suami saya menjadi “kartu truf” bagi saya bila Ifa atau Adek bertengkar dan sulit untuk dicegah, dan suami saya memiliki kemampuan antisipatif…… hickkks. Tapi pagi ini ia dikalahkan oleh sebuah “keluguan nasionalisme” dari sulungku, Ifa binti Ilham. Dan, ketika pagi jelang siang bendera mulai berkibar di depan rumah kami, Ifa-pun mulai tersenyum dan berkata pada ayahnya, “gitu dong” ……… dan ia kemudian main sepeda lagi sambil “memberitahukan” kepada teman-temannya bahwa ia dan ayahnya adalah “nasionalis sejati”.

Keluguan Politik

Posted in Cerita Ringan on 1 Mei 2010 by ilhamfadli

Oleh : Imla W. Ilham

Cerita ini merupakan “cerita lama” yang luput saya posting, tentang kelucuan dan keluguan suami saya waktu ia masih kecil ketika berhadapan dengan pejabat daerah. Ceritanya begini : ……….. Kala itu, sekitar tahun 1982. Di kampung halaman kami, Air Bangis (saya dan suami satu kampung)., kedatangan Gubernur. Tahun 1980-an, Air Bangis merupakan daerah yang hampir terisolir di

pantai barat Sumatera Barat. Daerah pantai yang berjarak hampir 315 km dari Kota Padang. Daerahnya indah, berbentuk teluk yang dikelilingi oleh sembilan buah pulau dan merupakan daerah transisi kultural (antara etnik Minangkabau dengan Mandahiling, karena Air Bangis berbatasan langsung dengan Kabupaten Mandahiling Natal lewat laut). Air Bangis juga dikenal sebagai daerah historis-kaya sejarah karena di daerah ini merupakan salah satu daerah “perang” Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao (bahkan Tuanku Rao ditenggelamkan oleh kolonial Belanda di pantai Air Bangis……. sehingga di Air Bangis ada nama gugusan karang yaitu karang Tuanku Rao). Tahun 1982 tersebut, kedatangan pejabat-pejabat dari daerah (baik Kabupaten maupun Propinsi) menjadi sesuatu yang dianggap “mukjizat”. Tahun 1982 itu, Air Bangis didatangi oleh Bpk. Ir. Azwar Anas (ketika menjadi Gubernur Sumatera Barat). Kedatangannya disambut dengan riuh rendah a-la masyarakat “hampir terisolir” Air Bangis. Apalagi kedatangannya dengan menggunakan helikopter yang membuat masyarakat Air Bangis jadi histeria …………. maklum melihat pesawat terbang yang “lalu” saja diatas udara Air Bangis bisa membuat masyarakat Air Bangis kala itu jadi histeris, apalagi ada helikopter yang mendarat …………. dijamin “mak nyoooss”.

Kata suami saya, kala itu ia berusia 8 tahun (kelas 2 SD). Kala itu suasana sedang “sedikit panas”, maklum jelang Pemilu 1982.  Waktu itu ia disuruh oleh guru-gurunya memakai pakaian seragam “ala kadarnya” bersama dengan teman-temannya untuk menyambut kedatangan “wong gedong” tersebut. Ketika helikopter mendarat di lapangan hijau Air Bangis, Gubernur dan Rombongan kemudian diarak ke Gedung Pertemuan Nagari. Masyarakat Air Bangis, kala itu, yang berjubel menyambut kedatangan Gubernur tersebut, “terpecah dua”, sebagian mengiringi Guberenur yang diarak ke Gedung Pertemuan Nagari, sebagian lagi “menonton helikopter”. Singkat cerita, ketika Gubernur sampai ke Gedung Pertemuan Nagari, setelah melalui acara “tetek bengek”, sampailah pada acara sambutan resmi dari Bpk. Ir. Azwar Anas yang kala itu sangat gagah. Dalam pidatonya, lebih banyak bernuansakan kampanye (maklum suasana pemilu 1982) - tepatnya mengkampanyekan Golkar — dibandingkan dengan arahan yang bersifat mencerahkan. Nah …. ditengah-tengah pidatonya, Gubernur meminta seorang anak untuk maju ke depan. Anak yang maju ke depan tersebut adalah anak yang duduk-mencangkung di barisan depan, yang mungkin dianggap oleh Gubernur serius mendengar pidatonya. Padahal, anak tersebut hanyalah melongo mendengar pidato yang isinya “hampir tidak bisa dipahaminya”. Dengan langkah pasti nan tegap, walaupun tubuhnya pendek, si anak yang memakai pakaian pramuka “ala kadarnya” serta menggunakan sepatu bot-putih anti air buatan Cina yang dibeli pada Tekong Cina bernama Kiat di Kampung Cina Air Bangis, melangkah menuju tempat sang Gubernur pidato. Si anak tersebut ………….. ya, ia suami saya. Kemudian, terjadilah komentar singkat :

Gubernur : Siapa nama kamu ?
Si Anak : Muhammad Ilham, pak Gubernur
Gubernur : Apa cita-cita kamu
Si Anak : Jadi Gubernur, pak Gubernur
Gubernur : wah ………… bagus itu. Apa pekerjaan ayahmu ?
Si Anak : Ayah saya tukang jahit, ibu saya jualan ketupat (jawaban yang komplit)
Gubernur : Bisa baca Pancasila?
Si Anak : Bisa, pak Gubernur
Gubernur : Coba baca !
Si Anak : Pancasila ………… Satu (mulai membaca) dan seterusnya
(Setelah si anak ini selesai membaca Pancasila……….. Gubernur kemudian menyuruh si anak untuk mengikuti kata-katanya dengan pekikan yang lantang)
Gubernur : Hidup Golkaaaaaaaaaaaaaar !!!!!!!!!
Si Anak : ?????????? (ia diam)
Gubernur : Ayo, kenapa diam ?
Si Anak : Saya dan ayah saya memilih PPP pak Gubernur, bukan Golkar
Gubernur : …………………….. @$&$@!# !!!!!!!!!!!!!

(Besoknya, suami saya dimarahi oleh guru-guru SD-nya, tetapi mertua saya bangga …. buktinya ia langsung membelikannya sepatu bot putih anti air yang baru dari tekong Cina bernama Liem She Kiat @ Kiat di Kampung Cina Air Bangis …………. konon dibayar tidak kontan alias kredit). Selanjutnya ……… suami saya tetap tidak pusing dengan kemarahan guru-guru SD-nya. Ia tetap menganggap dialog singkatnya dengan Gubernur tersebut memberikan keberkahan baginya, sepatu bot putih anti air yang sejak ia masuk SD belum pernah diganti oleh ayahnya, justru diganti dengan yang baru. Dan konon, foto-nya waktu dialog dengan Gubernur tersebut, sampai hari ini tetap dipajang oleh kakaknya di Air Bangis, walaupun telah lusuh. Nama fotografernya masih diingat oleh suami saya, Ruslin Sutan Batuah @ Sulin. Ia teman akrab mertua saya. Konon, “insiden” dialog tersebut membuat Ruslin Sutan Batuah “ketawa senang”, buktinya mertua saya tidak harus membayar untuk menebus foto “bersejarah” itu, padahal Ruslin yang bergelar Sutan Batuah tersebut butuh waktu 3 hari ke Padang ….. hanya untuk mencucikan foto ini, 3 buah …… 1 untuk mertua saya, 1 lagi untuk SD tempat suami saya sekolah dan 1 lagi untuknya.

Insert : Foto “Ilham Kecil” saat dialog dengan Gubernur Sumbar (Tahun 1982) Ir. H. Azwar Anas

(sebagaimana yang telah diposting di www.abahiffa.blogspot.com)

Politisi yang Peragawan

Posted in Cerita Ringan on 1 Mei 2010 by ilhamfadli

Oleh : Muhammad Ilham

Tanyalah masyarakat secara acak (khususnya masyarakat “akar rumput”) konsep demonstrasi. Mayoritas jawaban cenderung mengatakan bahwa demonstrasi adalah anarkisme, mubazir dan tidak efektif. Parahnya lagi, demokrasi diposisikan sejajar dengan pemahaman demonstrasi. Gara-gara demokrasilah, terjadi “premanisme” transformasi pendapat, dan seterusnya. Substansi kehilangan konteks karena telah terjadi penyuguhan demonstrasi anarkis secara berketerusan, sehingga pemahaman substansi demokrasi kena imbasnya. Jadi, janganlah heran bila ada kalangan masyarakat yang justru “merindukan” kondisi stabil, walau otoriter, pada masa Orde Baru.

Nabalisme politik juga terlihat dari spanduk, baliho dan berbagai bentuk advertising para calon legislatif. Setiap mendekati eleksi politik (baik Pemilihan legislatif, Pemilihan Presiden ataupun Pemilihan Kepala Daerah),  bertaburan-lah pesan-pesan politik di setiap sudut daerah.  Tapi yang terjadi, pesan dan substansi telah kehilangan konteks.  Justru yang terjadi adalah kebosanan dan deviasi pesan (penyimpangan pesan). Diseluruh sudut daerah, baliho dan spanduk para caleg “yang mengadu peruntungan”, terpampang dengan semua aksesoris dan redaksi bahasanya. Estetika eksterior jelas-jelas tidak terlihat. Pohon, tiang listrik, jembatan, sudut-sudut jalan, pertokoan, halte, infrastruktur publik dan pembatas jalan protokol, penuh dengan baliho dan spanduk yang menampilkan para caleg dalam versi variatif terkadang lucu : melambaikan tangan, menunjuk nomor urut, senyum sedikit, sedikit tertawa tampak gigi, berdiri disamping tokoh partainya, bahkan yang lucunya ada caleg laki-laki yang bila dilihat secara “serius” justru pakai lipstik (coba lihat bibir para caleg, rata-rata merah-ranum) Kata-kata yang disampaikan dalam baliho atau posternya tersebut sangat empati, patriotik, propagandis tapi tetap menampilkan kesan bahwa pesan itu disampaikan bukan dengan “hati”. Salah satu baliho yang cukup membuat kita tertawa adalah baliho caleg yang terdapat didalamnya kata-kata : “Pilihlah saya, pengurus jenazah kota Padang”. Ada lagi kata-kata lucu lainnya : “bila saya terpilih, lomba mancing terus kita lakukan”. “Caleg pilihan Pemburu Babi”. Gila.

Namun secara umum, seluruh baliho menampilkan tulisan-tulisan klaim sepihak dan ingin menyampaikan pesan kepada para pembaca bawa kata-kata itu pada prinsipnya “berbalik” dengan kondisi sebenarnya. “Pilihan Kita adalah Wakil Kita yang akan Berjuang untuk Kita”, “Mengabdi dengan Penuh Pengabdian Demi Rakyat”, “Hidup adalah Perbuatan, Saya akan Berbuat” (mungkin Sutrisno Bachir salah cari moto, pabuatan dalam bahasa Minangkabau justru berkonotasi negatif), “Jangan Ragu, Jangan Bimbang karena Saya Tak Pernah Ragu dan Bimbang untuk Berbuat Untuk Rakyat”, dan seterusnya. Para Caleg umumnya tak ada yang “main-main” dari aspek performance, berusaha tampil gagah-cantik dengan kata-kata empatik-mengharukan. Tapi yang herannya, banyak masyarakat berkata : “peragawan panduto”. Peragawan bukan pengakuan akan kekaguman fisik, tapi lebih kepada kemuakan (nabalisme). Sebaik apapun kata-kata yang disuguhkan, klaim “panduto” yang justru mengedepan.

Eksploitasi Agama

Posted in Cerita Ringan on 1 Mei 2010 by ilhamfadli

Oleh : Muhammad Ilham

Ada seorang teman dari kawan saya yang kebetulan “nyaleg” waktu Pemilu Legislatif 2009 yang lalu dari sebuah partai yang tidak memiliki potensi untuk “survive”. Teman dari kawan saya ini dikenal sebagai “urang pasa”, sering duduk dikedai, hobi main koa dan sangat “pa-ota”. Pokoknya, salah satu potensi vote-getter telah berhasil dikuasai - memiliki basis massa riil, khususnya di kedai-kedai. Namun, tingkat elektabilitasnya, itu cerita lain.

Nah, ketika teman dari kawan saya yang (hanya) tamat SMTA swasta tidak terkenal di kota Padang  ini jadi Caleg,  praktis ia tak pernah lagi ke kedai memegang kartu koa dan domino. Pencitraan personal memang dipupuk dan digenjotnya habis-habisan. Ia akan tersenyum simpul, tanpa komentar verbal, bila ada teman-temannya yang “merayu” untuk membawanya kembali ke habitat - kedai dan kartu domino plus koa. Bila selama ini, ia dengan mudah dijumpai di kedai-kedai, maka dalam suasana masa ini, ia sangat rajin pergi surau, musholla atau-pun masjid. Hampir setiap waktu, dan biasanya setelah sholat berjamaah, ia tidak akan langsung pulang - berdiskusi dahulu dengan beberapa orang untuk sekedar mengatakan bahwa ia adalah orang yang peduli, pintar dan pantas untuk dipilih jadi wakil rakyat.

Nampaknya si Caleg dari partai yang tidak memiliki potensi survive tersebut memahami apa yang diwacanakan Menteri Dalam Negeri (bila diumpamakan sekarang) - wakil rakyat dan calon pemimpin itu harus menjaga moralitasnya. Karena itulah,  ia lebih suka betah (atau membetahkan diri) berada di surau atau musholla dibandingkan di kedai. Fotonya di baliho kampanye bergandeng dengan gambar masjid. Dengan setting-layout “manis-menggoda”,  si Caleg ini memakai baju koko-berkopiah. Dengan background warna sesuai warna kebesaran partai politik yang mengusungnya, sang Caleg yang teman dari kawan saya ini, berdiri gagah, tangan mengepal, dan tentunya kopiah hitam baru, bertengger nyaman di kepalanya dengan pas. Dan, baliho inipun tidak lupa memuat kalimat yang bagus (walau mungkin si Caleg ini tidak begitu memahami makna dari kalimat itu). “Mari Kita Kembali ke Surau, Mari Semarakkan Masjid, Hindari Maksiat”. Ketika ia dinyatakan gagal jadi anggota legislatif, ia kembali ke habitat-nya, Kedai dan Koa. Sambil bergurau, kawan-kawannya-pun menyindirnya memanfaatkan simbol-simbol agama. Dengan santai ia-pun bilang, di dunia ini tiga daya tarik politik : “Uang, Wanita dan Simbol Agama”. Yang pertama, sulit bagi saya, yang kedua tidak mungkin kita lakukan di ranah Minang, yang ketiga lebih memungkinkan. Oke … putar kartu Koa-nya, kita main …. dan azan berkumandang, ia tidak mau ke Surau …. Coki !

(Sebenar) Politisi

Posted in Cerita Ringan on 29 April 2010 by ilhamfadli

Oleh : Muhammad Ilham

Berbicara mengenai politik itu mudah, dimanapun bisa dilakukan. Bila saya pulang kampung, satu hal yang sangat saya rindukan ……. duduk di sebuah kedai, dipersimpangan empat dekat batang sungai Air Bangis yang hiruk-bising lagi polutif. 24 jam, kedai ini “hidup”. Energinya sungguh luar biasa. Seluruh topik jadi pembicaraan hangat. Tanpa teori apalagi metodologi. “Penguasa” forum, parameternya cuma satu …… “intonasi suara”. Awal Januari kemaren saya pulang kampung. Tak lupa saya singgah ke kedai di persimpangan empat tersebut, ingin “nimbrung” Today’s Dialog. Tanpa moderator, diskusi pun mulai. Bush yang dilempar sepatu, Megawati yang semakin cantik dan kamek, baliho-baliho caleg yang memuakkan hingga mirip iklan XL (Baca : mirip baruak bukan Luna Maya), BBM, PNPM Mandiri, “kantong mata” SBY yang makin tebal hingga perselingkuhan anggota DPR terhormat dengan selebritis. Semuanya jadi satu. Satu dua orang akan fokus terhadap satu dua topik. Tapi itu hanya untuk sementara, karena pasti ada yang lain menjadi “pengacau” untuk mengacaukan topik tertentu. Biasa saja, dipertengahan Today’s Dialog satu dua gelas pecah. Diakhir diskusi mereka patungan untuk bayar gelas yang “badarai”. Saya sangat menikmatinya. Masa-masa inilah saya mempraktekkan apa yang disarankan oleh Raja Faisal : “Allah memberikan satu mulut, dua mata dan dua telinga, maka banyaklah kamu melihat dan mendengar”. Sambil minum “kopsteng” (Kopi Susu Setengah Gelas), saya jadi best hearer. Sangat antusias. Forum kala itu memposisikan saya sebagai “insan yang marginal”.

Ada kelucuan, keluguan, rasa ingin tahu yang besar hingga ingin menunjukkan posisi eksistensinya di tengah-tengah forum. Semua orang, siapapun ia, apakah ia SBY, Megawati ataupun para Caleg yang “terlambat jadi foto model” (yang ini istilah mereka), “dikupas tuntas” dengan baik menurut versi mereka. Tanpa metodologi ataupun teori apalagi moderator secerdas Meutya Hafidz, seluruh persoalan politik Indonesia (bahkan dunia), “seakan-akan” terjawab dalam diskusi kedai di persimpangan empat tersebut. Di akhir dialog hari itu, timbul pertanyaan :”Tidakkah kita pusing dengan banyaknya partai?”. Untuk topik lain, umumnya mereka berbeda, tapi untuk topik yang satu ini, jawaban mereka umumnya sama. Aklamasi mereka mengatakan : “Siapapun Presidennya, Indonesia tetap seperti ini. Sekarang masa kita untuk memeras mereka. Siapapun yang datang pada kita, pemberian mereka halal, karena memang selama ini mereka-merekalah yang mengajarkan kita. Kata siapa pemilu sekarang buat kita bingung? Kalau bisa, pemilu 2014 yang akan datang lebih dari 100 partai. Coba bayangkan : 100 baju, 100 topi, 100 kalender, 100 X Rp. 50.000 untuk upah menempelkan gambar di dinding, 200 batang kayu 10/12 untuk baliho mereka … lumayan, selesai ½ bangunan dapur kita, 100 spanduk untuk ganti seng penutup kamar mandi, 100 kartu nama untuk mainan anak-anak kita, untung-untung kita dapat 100 jaket ….. Sungguh hari-hari yang menyenangkan. Ketika hari pencoblosan, lebih baik kita melaut untuk cari uang belanja yang akan datang, karena pasti mereka tak akan memberikan kita lagi uang. Apalagi bagi yang kalah, kita jelas dilihatnya seperti “parasit-predator” (yang ini istilah saya). Semoga pemilu tahun 2009 ini, kami bisa mengganti dapur. Lumayan, 42 batang kayu 10/12 sudah kita tandai. Ketika mereka duduk nantinya, kayu 42 batang itulah yang akan menjadi kenang-kenangan mereka. Kita dan mereka, kemudian, sama-sama lupa”.

Mereka betul-betul politisi. Selama ini, para calon atau politisi menganggap mereka hanya “angka-angka”, namun bagi saya, merekalah sebenarnya yang mampu mempraktekkan apa yang dikatakan oleh Harold Laswell : “politics is who get what how and when”, walaupun dalam perspektif “tujuan”, terkesan sangat instan-minimal, namun secara substantif, mereka sungguh sangat “pintar”.

Cerita Ringan Pilkada Sumatera Barat

Posted in Cerita Ringan on 28 April 2010 by ilhamfadli

Oleh : Muhammad Ilham

Sumatera Barat dan mungkin juga di daerah lain, ”epidemi” deman Eleksi Politik (dalam hal ini : Pilkada) mulai terasa. Sebagaimana halnya tahun 2009 yang lalu (Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden), maka jelang Pilkada Juni 2010 yang akan datang, memang Eleksi Politik menarik sekali melihat “kesan-kesan” yang kita tangkap pada masa jelang Pilkada tersebut. Setelah hampir satu tahun, publik tidak lagi disuguhi janji-janji dan seribu satu harapan, sekarang publik dihadapkan lagi pada seruan (appeal) berupa harapan dan janji tersebut. Lihatlah spanduk, baliho ataupun sticker dan ragam jenis instrumen sosialisasi lainnya. “Calon Gubernur dan Wabup yang Terbukti Membuat Perubahan”, “Mari Babaliak ka Surau”, “Calon Bupati dan Wabup yang akan Sejahterakan Rakyat”, ”Menciptakan Masyarakat Madani”, ”Calon yang Layak Memimpin” dan seterusnya dan seterusnya yang pada prinsipnya membuat kita mengklaim mereka “panduto raya”. Dalam kondisi ini, timbul indentifikasi antara kepentingan rakyat dan kepentingan sang calon. Sedapat-dapatnya, sang caleg menciptakan kesan berfikir menurut jalan rakyat. Tapi apapun yang dilakukan oleh para calon belakangan ini, wajar-wajar saja. Sosialisasi yang berhasil, menurut sosiologi politik, adalah yang mampu mengadakan “political engineering” – suatu penyiasatan politik untuk mencapai tujuan politik dan mewujudkan kemauan politik tertentu, dengan cara menciptakan suatu kerangka berfikir menurut kerangka acuan kelompok.

“Historia Vitae Magistra”, kata Bennedicto Croce. Sejarah memberi pengalaman. Pengalaman historis bangsa kita, memberikan pelajaran yang sama. Kolonialisme yang ingin ditumbangkan melahirkan kondisi kerangka berfikir yang sama dalam benak setiap anak bangsa kala itu. Indonesia merdeka pun menjelma. Kemudian, lahir sejumlah kelompok dan partai politik. Kemudian saling gontok-gontokan. Kemudian, terjadi instabilitas. Kemudian, kemudian dan kemudian. Menjadi pertanyaan : “Mengapakah orang-orang yang tadinya demikian bersatu padu, dalam waktu yang tak lama berselang, menjadi amat terpecah belah?”. Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang barangkali membuat rakyat menjadi masygul dan kritis menghadapi seruan politik dalam berbagai kampanye. Persatuan kepentingan dengan mereka dikerahkan sehabis-habisnya tatkala suara atau tenaganya dibutuhkan untuk mensukseskan suatu perjuangan politik. Tetapi begitu perjuangan mulai memperlihatkan hasilnya, mereka cenderung tidak diutamakan lagi, sekurang-kurangnya tak lagi sehebat ketika lagi berjuang. Ungkapan “Calon Gubernur dan Wabup yang Terbukti Membuat Perubahan”, “Mari Babaliak ka Surau”, “Calon Bupati dan Wabup yang akan Sejahterakan Rakyat”, ”Calon yang Layak Memimpin” menjadi kehilangan makna.

Kalau dulu, jelang Pemilihan Legislatif, saya pernah mendengar nyanyian anak-anak yang baru pulang dari Didikan Subuh : Berakit-rakit ke hulu/berenang-renang ke tepian/bersakit-sakit dahulu/bersenang-senang sendirian/. Saya lihat kemudian, rupanya mereka bernyanyi menghadap pada baliho gambar seorang Caleg yang terletak dekat musholla. Setelah nyanyi, mereka pun ketawa dan salah seorang nyeletuk, “Calegnyo bencong, lai laki-laki tapi bibianyo bagincu” (Rupanya ada beberapa caleg kala itu yang ingin tampil sempurna, lalu mensiasati foto-nya yang sebenarnya tidak gagah-berwibawa menjadi gagah-berwibawa, dan salah satunya adalah tampilan bibir yang tebal-hitam dari sang caleg “direkaya-digital” dengan menipiskah dan memerahkan bibir, seperti tampilan banci-waria-bencong). Beberapa hari ini, saya mendengar celetukan dari beberapa orang anak-anak yang berdiri di depan baliho seorang Calon Gubernur : ”Haaa ….. mancalon pulo baliak, apak ko kan baru tahun patang mancalon, kini mancalon pulo …. iyo rakuih bapak ko maa ?” (Translate : ”Bapak ini kembali lagi mencalonkan diri, padahal tahun kemaren, si Bapak ini sudah mencalonkan diri …. Rakus betul Bapak ini!). Rupanya, si anak masih merekam dalam memori mereka gambar seorang calon Gubernur yang kebetulan juga Walikota yang (baru) terpilih tahun 2009 yang lalu. Rupanya, sang Walikota ini ingin menaikkan ”derajatnya” jadi Gubernur. Dan ….. anak-anak yang lugu ”menjudge”nya sebagai insan yang rakus. Anak-anak terkadang menyuarakan nurani terdalam, beda dengan kita yang cenderung berdiplomatis.